Posted by: Newanda JM | September 3, 2009

NEFRITIS LUPUS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Nefritis lupus, salah satu dari manifestasi paling serius dari lupus eritematosus sistemik (LES) biasanya muncul dalam 5 tahun setelah diagnosis. Bagaimanapun, gagal ginjal jarang terjadi sebelum kriteria klasifikasi American College of Rheumatology terpenuhi. Nefritis lupus tampak jelas secara histologis pada kebanyakan pasien dengan LES, bahkan mereka yang tidak menunjukkan manifestasi klinis penyakit ginjal. Gejala nefritis lupus umumnya berhubungan dengan hipertensi, proteinuria dan gagal ginjal. 1
Di Amerika, prevalensi LES adalah 1 kasus per 2000 penduduk pada populasi umum. Karena kesulitan diagnosis dan kemungkinan banyak kasus tidak terdeteksi, sebagian besar peneliti menyarankan bahwa prevalensi mungkin lebih dekat ke 1 kasus per 500-1000 populasi. (LN Medscape 3). Data prevalensi LES di Indonesia sampai saat ini belum ada. Jumlah penderita LES di Indonesia menurut Yayasan Lupus Indonesia (YLI) sampai dengan tahun 2005 diperkirakan mencapai 5000 orang.2
Keterlibatan ginjal pada LES merupakan manifestasi penyakit yang umum dijumpai dan merupakan prediktor kuat luaran yang buruk. Prevalensi penyakit ginjal pada 8 studi kohort besar yang terdiri atas 2649 pasien LES bervariasi antara 31-65%. Suatu studi menganalisis insidensi tahunan dari nefritis pada 384 pasien lupus di John Hopkins Medical Center antara 1992-1994, dan didapatkan insidensi penyakit ginjal akut sebesar 10 persen.3 Berdasarkan data dari Asia, keterlibatan renal berkisar antara 6-100% secara keseluruhan.4
Secara histologis, ginjal terpengaruh sampai derajat tertentu pada kebanyakan pasien dengan LES. Perkiraan prevalensi keterlibatan ginjal secara klinis pada pasien LES berkisar antara 30-90% pada studi-studi yang sudah dipublikasikan. Prevalensi sesungguhnya dari nefritis lupus klinis pada pasien LES kemungkinan sekitar 50%, lebih sering pada anak-anak dan etnis tertentu . LES lebih sering pada orang kulit hitam dan ras Hispanik dibandingkan kulit pulih. Nefritis lupus yang berat terutama lebih sering ditemukan pada orang kulit hitam dan ras Asia dibandingkan ras lain. Karena prevalensi LES lebih tinggi pada wanita (rasio wanita:pria = 9:1), lupus nefritis juga lebih sering dijumpai pada wanita.; bagaimanapun prognosis penyakit ginjal klinis lebih umum pada pria dengan LES. 5,6
Kebanyakan pasien dengan LES terkena nefritis lupus pada awal perjalanan penyakitnya. LES lebih sering terjadi pada wanita di dekade ketiga kehidupannya, dan nefritis lupus juga sering terjadi pada pasien usia 20-40 tahun. Anak dengan LES memiliki risiko penyakit ginjal lebih tinggi daripada dewasa dan lebih sering mengalami cedera akibat penyakit yang agresif dan toksisitas akibat pengobatan.7,8
Selama 4 dekade terakhir, perubahan dari manajemen nefritis lupus telah banyak meningkatkan kemungkinan hidup pasien. Saat ini rata-rata 10 year survival rate dari LES telah melebihi 90%. Sebelum tahun 1955, 5-year survival rate kurang dari 50%. Penurunan mortalitas terkait SLE dapat merupakan kontribusi diagnosis lebih awal (termasuk kasus ringan), perbaikan pengobatan spesifik dan kemajuan ilmu kedokteran secara umum.9
Morbiditas dari nefritis lupus terkait dengan penyakit ginjalnya sendiri, selain komplikasi pengobatan dan komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular dan trombosis. Gagal ginjal progresif dapat berakhir pada anemia, uremia dan gangguan asam basa serta elektrolit. Hipertensi akan semakin meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Sindroma nefrotik dapat menimbulkan edema, asites dan hiperlipidemia. Komplikasi infeksi yang terkait SLE aktif dan pengobatan imunosupresi saat ini merupakan penyebab utama kematian pada SLE fase awal yang aktif, dan arteriosklerosis dini adalah penyebab kunci mortalitas pada fase lanjut. Framingham Offspring Study menunjukkan bahwa wanita usia 35-44 tahun dengan LES adalah 50 kali lebih mudah mengalami iskemia miokardial dibandingkan wanita sehat. Penyebab PJK dini pada pasien LES bersifat multifaktorial, termasuk disfungsi endotel, mediator inflamasi, atherogenesis yang diinduksi kortikosteroid dan dislipidemia yang terkait dengan penyakit ginjal. 9
Terapi dengan kortikosteroid, siklofosfamid, dan agen imunosupresif lain meningkatkan risiko infeksi. Terapi kortikosteroid jangka panjang dapat mengarah pada osteoporosis, nekrosis avaskular, diabetes melitus dan hipertensi, selain komplikasi kosmetik (seperti kerontokan rambut,moon face) dan infertilitas. Terapi siklofosfamid dapat menyebabkan sitopenia, sistitis hemoragik, infertilitas dan peningkatan risiko keganasan.5 Perbedaan presentasi klinis dan histologis serta kendali komplikasi pengobatan yang kompleks dari pasien LES menuntut adanya suatu pendekatan individualisasi terapi yang tepat. Saat ini pun, sedang berlangsung banyak penelitian pada obat-obatan yang mungkin dapat menjadi harapan baru bagi penderita LES seperti mycophenolate dan rituximab.
Laporan kasus ini memaparkan pendekatan diagnosis dan kemungkinan terapi dari pasien dengan manifestasi renal dari lupus eritematosus sistemik, yang dicurigai suatu nefritis lupus

1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan referat ini adalah untuk menguraikan pengertian dan penanganan kasus pada pasien Nefritis Lupus.

1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan referat ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Nefritis lupus adalah komplikasi ginjal pada lupus eritomatosus sistemik (LES). Diagnosis klinis nefritis lupus di tegakkan bila pada LES terdapat tanda-tanda proteinuria dalam jumlah lebih atau sama dengan 1 gram/24 jam atau/dengan hematuria (>8 eritrosit/LPB) atau/dengan penurunan fungsi ginjal sampai 30%. Sebanyak 60% pasien LES dewasa akan mengalami komplikasi ginjal yang nyata, walaupun pada fase awal LES, kelainan atau gangguan fungsi ginjal terdapat 25%-50% kasus.10
Nefritis lupus adalah suatu proses inflamasi ginjal yang disebabkan oleh Sistemik Lupus Erithematosus, yaitu suatu penyakit autoimun. Selain ginjal, SLE juga dapat merusak kulit,sendi, system saraf dan hampir semua organ dalam tubuh.11

Gambar 1:Tipe IV Lupus Nefritis dengan khas “flea-bitten appearance” pada permukaan korteks dari difus glomerulonefritis proliferative.Keadaan langka ini disebabkan oleh perdarahan tidak terkendali diikuti biopsy.11

Gambar 2: Proses terjadinya Nefritis Lupus..12

2.2 EPIDEMIOLOGI
Di Amerika, prevalensi LES adalah 1 kasus per 2000 penduduk pada populasi umum. Karena kesulitan diagnosis dan kemungkinan banyak kasus tidak terdeteksi, sebagian besar peneliti menyarankan bahwa prevalensi mungkin lebih dekat ke 1 kasus per 500-1000 populasi. (LN Medscape 3). Data prevalensi LES di Indonesia sampai saat ini belum ada. Jumlah penderita LES di Indonesia menurut Yayasan Lupus Indonesia (YLI) sampai dengan tahun 2005 diperkirakan mencapai 5000 orang.12
Keterlibatan ginjal pada LES merupakan manifestasi penyakit yang umum dijumpai dan merupakan prediktor kuat luaran yang buruk. Prevalensi penyakit ginjal pada 8 studi kohort besar yang terdiri atas 2649 pasien LES bervariasi antara 31-65%. Suatu studi menganalisis insidensi tahunan dari nefritis pada 384 pasien lupus di John Hopkins Medical Center antara 1992-1994, dan didapatkan insidensi penyakit ginjal akut sebesar 10 persen.3 Berdasarkan data dari Asia, keterlibatan renal berkisar antara 6-100% secara keseluruhan.13
Secara histologis, ginjal terpengaruh sampai derajat tertentu pada kebanyakan pasien dengan LES. Perkiraan prevalensi keterlibatan ginjal secara klinis pada pasien LES berkisar antara 30-90% pada studi-studi yang sudah dipublikasikan. Prevalensi sesungguhnya dari nefritis lupus klinis pada pasien LES kemungkinan sekitar 50%, lebih sering pada anak-anak dan etnis tertentu . LES lebih sering pada orang kulit hitam dan ras Hispanik dibandingkan kulit pulih. Nefritis lupus yang berat terutama lebih sering ditemukan pada orang kulit hitam dan ras Asia dibandingkan ras lain. Karena prevalensi LES lebih tinggi pada wanita (rasio wanita:pria = 9:1), lupus nefritis juga lebih sering dijumpai pada wanita.; bagaimanapun prognosis penyakit ginjal klinis lebih umum pada pria dengan LES. 14,15
Kebanyakan pasien dengan LES terkena nefritis lupus pada awal perjalanan penyakitnya. LES lebih sering terjadi pada wanita di dekade ketiga kehidupannya, dan nefritis lupus juga sering terjadi pada pasien usia 20-40 tahun. Anak dengan LES memiliki risiko penyakit ginjal lebih tinggi daripada dewasa dan lebih sering mengalami cedera akibat penyakit yang agresif dan toksisitas akibat pengobatan.16,17
Selama 4 dekade terakhir, perubahan dari manajemen nefritis lupus telah banyak meningkatkan kemungkinan hidup pasien. Saat ini rata-rata 10 year survival rate dari LES telah melebihi 90%. Sebelum tahun 1955, 5-year survival rate kurang dari 50%. Penurunan mortalitas terkait SLE dapat merupakan kontribusi diagnosis lebih awal (termasuk kasus ringan), perbaikan pengobatan spesifik dan kemajuan ilmu kedokteran secara umum.18
Morbiditas dari nefritis lupus terkait dengan penyakit ginjalnya sendiri, selain komplikasi pengobatan dan komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular dan trombosis. Gagal ginjal progresif dapat berakhir pada anemia, uremia dan gangguan asam basa serta elektrolit. Hipertensi akan semakin meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Sindroma nefrotik dapat menimbulkan edema, asites dan hiperlipidemia. Komplikasi infeksi yang terkait SLE aktif dan pengobatan imunosupresi saat ini merupakan penyebab utama kematian pada SLE fase awal yang aktif, dan arteriosklerosis dini adalah penyebab kunci mortalitas pada fase lanjut. Framingham Offspring Study menunjukkan bahwa wanita usia 35-44 tahun dengan LES adalah 50 kali lebih mudah mengalami iskemia miokardial dibandingkan wanita sehat. Penyebab PJK dini pada pasien LES bersifat multifaktorial, termasuk disfungsi endotel, mediator inflamasi, atherogenesis yang diinduksi kortikosteroid dan dislipidemia yang terkait dengan penyakit ginjal. 18
2.3 ETIOLOGI 19
Nefritis lupus terjadi ketika antibody (anitnuklear antibody) dan komplemen terbentuk di ginjal yang menyebabkan terjadinya proses peradangan. Hal tersebut biasanya mengakibatkan terjadinya sindrom nefrotik (eksresi protein yang besar) dan dapat progresi cepat menjadi gagal ginjal. Produk nitrogen sisa terlepas kedalam aliran darah.
Systemic lupus erythematosus (SLE) menyerang berbagai struktur internal dari ginjal, meliputi nefritis interstitial dan glomerulonefritis menbranosa. Nefritis lupus mengenai 2 dari 10 ribu orang. Pada anak dengan SLE, sekitar setengahnya akan mengakibatkan terjadinya progresifitas menjadi gagal ginjal. SLE paling sering terjadi pada wanita usia 20-40 tahun. 20
2.4 PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS LUPUS NEFRITIS
Patogenesis timbulnya LES diawali oleh adanya interaksi antara factor predisposisi genetic dengan factor lingkungan, factor hormone seks, dan factor system neuroendokrin. Interaksi factor-faktor tersebut ini akan mempengaruhi dan mengakibatkan terjadinya respons imun yang menimbulkan peningkatan aktivitas sel-T dan sel-B, sehingga terjadi peningkatan auto-antibodi (DNA-anti-DNA). Sebagian auto-antibodi ini akan membentuk kompleks imun bersama dengan nukleosom (DNA-histon), kromatin, C1q, laminin, Ro (SS-A), ubiquitin, dan ribosom: yang kemudian akan membuat deposit (endapan) sehingga terjadi kerusakan jaringan. Pada sebagian kecil NL tidak ditemukan deposit kompleks imun dengan sediaan imunofluoresen atau mikroskop electron. Kelompok ini disebut sebagai pauci-immune necrotizing glomerulonephritis.

Gambar 3: Patofisiologi terjadinya Lupus Nefritis.21

Gambaran klinis kerusakan glomerolus dihubungkan dengan letak lokasi terbentuknya deposit kompleks imun. Deposit pada mesangium dan subendotel terletak proksimal terhadap membrane basalis glomerulus sehingga mempunyai akses dengan pembuluh darah. Deposit pada daerah tersebut ini akan mengaktifkan komplemen yang kemudian membentuk kemoatraktan C3a dan C3a. Selanjutnya terjadi influx sel neutrofil dan sel mononuclear. Deposit pada mesangium dan subendotel secara histopatologis memberikan gambaran mesangial, proliferative fokal, dan proliferative difus; secara klinis memberikan gambaran sedimen urin yang aktif (ditemukan eritrosit, leukosit,silinder sel, dan granula), proteinuria, dan sering disertai penurunan fungsi ginjal. Sedangkan deposit pada subepitel tidak mempunyai hubungan dengan pembuluh darah karena dipisahkan oleh membrane basalis glomerulus sehingga tidak terjadi influx neutrofil dan sel mononuclear. Secara histopatologis memberikan gambaran nefropati membranosa dan secara klinis hanya memberikan gejala proteinuri.21

Gambar 4. Patofisiologi Nefritis Lupus 22
Respon autoantibodi pada LES tampaknya terarah terhadap nukleosom yang terbentuk dari sel apoptotik. Pasien dengan LES memiliki mekanisme klirens seluler yang buruk. Debris nuklear dari sel apoptotik menginduksi interferon-alfa melalui sel-sel dendritik plasmasitoid, yang merupakan induser sistem imun dan autoimunitas. Pada LES, limfosit B autoreaktif yang secara normal tidak aktif menjadi aktif karena malfungsi mekanisme homeostasis normal, sehingga autoantibodi diproduksi. Autoantibodi lain, termasuk anti-dsDNA terjadi lewat suatu proses penyebaran epitop. Autoantibodi ini akan bertambah banyak seiring waktu secara bertahap, beberapa bulan sampai tahun sebelum onset LES klinis. Lupus nefritis terkait dengan produksi autoantibodi nefritogenik dengan ciri-ciri sebagai berikut:22
1. Yang dianggap antigen secara spesifik adalah nukleosom atau dsDNA : beberapa antibodi dsDNA bereaksi silang dengan membran basal glomerulus.
2. Autoantibodi yang berafinitas tinggi dapat membentuk kompleks imun intravaskular, yang menumpuk dalam glomerulus.
3. Autoantibodi kationik memiliki afinitas yang lebih tinggi dengan membran basal glomerulus yang bersifat anionik.
4. Autoantibodi isotop tertentu (IgG1 dan IgG3 ) dapat mengaktivasi komplemen.
Kompleks imun terbentuk intravaskular dan kemudian diendapkan dalam glomeruli. Selain itu, autoantibodi dapat berikatan langsung dengan protein pada membran basal glomerulus (yang kemungkinan adalah α-aktinin) dan membentuk kompleks imun in situ. Kompleks imun mencetuskan respons inflamasi dengan mengaktivasi komplemen dan menarik sel-sel radang, termasuk limfosit, makrofag dan netrofil. Tipe histologis dari nefritis lupus yang terjadi tergantung dari berbagai faktor, termasuk spesifisitas antigen dan sifat lain autoantibodi serta tipe respons inflamasi yang ditentukan oleh faktor-faktor host lainnya. Pada bentuk yang berat dari nefritis lupus, proliferasi sel endotel, mesangial dan epitel serta produksi matriks protein dapat berakhir pada fibrosis.23,24
Gejala nefritis aktif termasuk edema perifer sekunder terhadap hipertensi atau hipoalbuminemia. Edema perifer ekstrim lebih sering pada pasien dengan nefritis lupus difus proliferatif atau membranosa, karena kedua lesi renal ini terkait dengan proteinuria berat. Gejala lain yang terkait langsung dengan hipertensi akibat nefritis lupus proliferatif difus termasuk sakit kepala, pusing, gangguan visual dan tanda-tanda gagal jantung. 25
Beberapa indikator klinis dari nefritis lupus aktif dapat dilihat pada tabel 3. Aktivitas penyakit dapat dievaluasi dengan anti-dsDNA, komplemen (C3,C4 dan CH50 ) dan LED atau CRP. Level CRP umumnya tidak meningkat pada pasien LES walaupun dengan penyakit aktif, kecuali pasien terkena artritis yang signifikan atau infeksi. Umumnya LED dan anti-dsDNA yang meningkat dan level C3 dan C4 yang rendah berkaitan dengan nefritis aktif, terutama tipe proliferatif lokal dan difus. Nefritis lupus yang signifikan secara klinis biasanya terkait dengan penurunan klirens kreatinin 30%, proteinuria >1000 mg/hari dan temuan biopsi ginjal yang menunjukkan nefritis lupus aktif. Antibodi anti-nukleosom muncul dini pada perjalanan respons autoimun pada LES, mereka memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk diagnosis LES serta titernya berkorelasi dengan aktivitas penyakit. Antibodi anti-C1q berkaitan erat dengan nefritis lupus, titer tinggi berkorelasi dengan penyakit ginjal aktif. 26
Abnormal urinalysis findings (albuminuria, leucocyturia, haematuria, granular casts, hyaline casts, red blood cell casts, fatty casts, oval fat bodies)
Abnormal urinary sediment findings (leucocyturia, haematuria, granular casts, hyaline casts)
Proteinuriaa (nephrotic syndrome with excretion of >3.5 g/day of protein occurs in 13-26% of patients)
Increased serum creatinine level
Decreased glomerular filtration rate
Rising anti-DNA antibody titre plus hyocomplementaemia, especially low C3 levels
Hypoalbuminaemia
Hypercholesterolaemia
Hyperuricaemia and renal tubular acidosis associated with tubulointerstitial injury
a Proteinuria is not always a reliable indicator of active disease because some patients have persistent proteinuria in the absence of active immunological injury.
Tabel 1 . Indikator klinis dari nefritis lupus aktif026
Klasifikasi patologis dari nefritis lupus direvisi oleh International Society of Pathology/Renal Pathology Society (ISN/RPS) tahun 2003 dan didasarkan pada pemeriksaan mikroskop cahaya,imunofluoresensi dan mikroskop elektron dari spesimen biopsi renal (lihat tabel 3). Hal ini berdasarkan klasifikasi terdahulu dari WHO tahun 1974 dan 1982. 27
Tabel 2 . Klasifikasi patologis nefritis lupus menurut ISN/RPS tahun 2003 28
Selain klasifikasi patologis, indeks aktivitas dan kronisitas dapat dihitung berdasarkan patologi sehingga prognosis (progresivitas) penyakit ginjal dapat diprediksi. Indeks aktivitas mencerminkan status inflamasi aktif yang dapat diamati dari biopsi yang mungkin dapat reversibel dengan pengobatan. Indeks kronisitas mencerminkan jumlah parut dan fibrosis yang umumnya tidak respon terhadap terapi. Lesi renal dengan indeks aktivitas tinggi lebih cenderung berespon terhadap terapi agresif, sementara lesi renal dengan kronisitas tinggi cenderung tidak berespon.29

Tabel 3 . Klasifikasi prognostik nefritis lupus menurut US National Institutes of Health 29

2.5 MANIFESTASI / GEJALA KLINIK
Gejala klinis yang dapat ditemukan merupakan kombinasi manifestasi kelainan ginjalnya sendiri dan kelainan di luar ginjal seperti gangguan system Sistem Saraf Pusat, system hematologi, persendian dan lainnya. Manifestasi ginjal berupa proteinuri didapatkan pada semua pasien , sindrom nefrotik pada 45-65% pasien, hematuria mikroskopik pada 80% pasien, gangguan tubular pada 60-80% pasien, hipertensi pada 15-50% pasien, penurunan fungsi ginjal pada 40-80% pasien, dan penurunan fungsi ginjal yang cepat pada 30% pasien. Gambaran klinis yang ringan dapat berubah menjadi bentuk yang berat dalam perjalanan penyakitnya. Beberapa predictor yang dihubungkan dengan perburukan fungsi ginjal pada saat pasien diketahui menderita NL antara lain ras kulit hitam, hematokrit 2.4 mg/dl, dan kadar C3 < 76 mg/dl. Gejala klinis NL yang dapat ditemukan sesuai klasifikasi sesuai kalsifikasi histopatologi sebagai berikut: 30
Nefritis Lupus Kelas:
I Proteinuria tanpa kelainan pada sedimen urin
IIa Proteinuria tanpa kelainan pada sedimen urin
IIb Hematuria mikroskopik dan atau proteinuria tanpa hipertensi dan tidak pernah terjadi sindrom nefrotik atau gangguan fungsi ginjal
III Hematuria dan proteinuria ditemukan pada seluruh pasien, sedangkan pada sebagian pasien ditemukan hipertensi, sindrom nefrotik, dan penurunan fungsi ginjal.
IV Hematuria dan proteinuria ditemukan pada seluruh pasien, sedangkan sindrom nefrotik, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ditemukan pada hampir seluruh pasien
V Sindrom nefrotik ditemukan pada seluruh pasien, sebagian dengan hematuri atau hipertensi akan tetapi fungsi ginjal masih normal atau sedikit menurun
Tabel 4. Pembagian kelas dari Nefritis Lupus.30

2.6 GAMBARAN HISTOPATOLOGIS
Kelainan ginjal yang ditemukan pada pemeriksaan histopatologi mempunyai nilai yang sangat penting. Gambaran ini mempunyai hubungan dengan gejala klinis yang ditemukan pada pemeriksaan dan juga menentukan pilihan pengobatan yang akan diberikan. Karena itu biopsy ginjal harus dilakukan bila tidak ada kontraindikasi. Pada tahun 1995 WHO memperbaiki klasifikasi kelainan histopatologi NL seperti terlihat pada table dibawah ini:

Klasifikasi Nefritis Lupus Menurut WHO 1995:31
I: Glumeruli normal
a. Normal dengan sesuai tekhnik pemeriksaan
b. Normal dengan mikroskop cahaya, akan tetapi di temukan deposit dengan cara imunohistologi dan/atau dengan mikroskop elektron.
II: perubahan pada mesangial
a. Pelebaran mesangial dan atau dengan hiperselular ringan
b. Proliferasi sel mesangial
III: focal segmental glomerulonefritis (dengan perubahan ringa/sedang
mesangial, dan/atau deposit epimembran segmental)
a. Lesi nefrotik aktif
b. Lesi sklerotik aktif
c. Lesi sklerotik
IV :glomerulonefritis difus (deposit luas mesangial/mesangiokapiler dan
subendotel)
a. Dengan lesi segmental
b. Dengan lesi nefrotik aktif
c. Dengan lesi sklerotik aktif
d. Dengan lesi sklerotik
V: glomerulonefritis membranosa difus
a. Murni glomerulonefritis membranosa
b. Dengan lesi kelas Iia dan b
VI :glomerulonefritis sklerotik lanjut

Gambar 5. Lupus nephritis class II. Light micrograph of a glomerulus with mild mesangial hypercellularity [periodic-acid Schiff (PAS)].31

Gambar 6. Lupus nephritis class IV and V (A/C). Glomerulus with lupus membranous nephritis with subepithelial spike formation combined with global endocapillary and mesangial hypercellularity, early crescent formation, and early mesangial and capillary sclerosis (methenamine silver).31

2.7 PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG
Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda berkurangnya fungsi ginjal dengan edem, hipertensi. Auskultasi abnormal dapat terdengar di jantung dan paru yang menandakan overload cairan.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
• ANA titer
• Basal urea nitrogen dan kreatinin
• Tes lupus
• Urinalisis
• Urine immunoglobulin rantai pendek

Tabel 5. Gambaran klinis dari Nefritis Lupus.32

Tabel 6. Pemeriksaan Autoantibody pada pasien dengan Nefritis Lupus.33
Biopsi ginjal tidak digunakan untuk mendiagnosis nefritis lupus, namun biopsy digunakan untuk menentukan pengobatan yang akan dilakukan.
Tabel 7.Nephrol Dial Transplant 2006;21:1749-52. 34

Gambar 7. Metode dari skiring proteinuria untuk Nefritis Lupus oleh 499 Rematologis yang berpraktek.35

2.8 DIAGNOSIS 2,5
Diagnosis lupus eritematosus sistemik didasarkan pada kriteria klinis dan laboratories. Kriteria yang dikembangkan oleh American College of. Rheumatology (ACR) pada tabel 2 paling banyak digunakan 10,11. Suatu algoritma untuk diagnosis penyakit ini dapat dilihat pada gambar 1. Pada suatu studi yang menggunakan pasien berpenyakit jaringan ikat sebagai grup kontrol, kriteria diagnostik ACR untuk LES ditemukan memiliki sensitivitas96% dan spesifisitas 96%. Studi lain melaporkan sensitivitas mulai 70-96 persen dan spesifisitas mulai 89-100 persen. Bagaimanapun kriteria ACR mungkin kurang akurat pada pasien dengan manifestasi ringan LES. 12 Peningkatan titer antibodi antinuklear (ANA) menjadi 1:40 atau lebih tinggi adalah yang paling sensitif dari kriteria ACR. Lebih dari 99 persen pasien dengan LES memiliki peningkatan ANA titer pada titik tertentu, walaupun sejumlah besar pasien mungkin titernya negatif pada fase awal penyakit. Bagaimanapun tes ANA tidak spesifik untuk LES. Penyakit lain yang sering terkait dengan uji ANA positif termasuk sindrom Sjögren (68% dari pasien), skleroderma (40-75% pasien), artritis rematoid (25-50%) dan artritis rematoid juvenil (16%). Uji ANA juga bisa positif pada pasien dengan fibromialgia. Pada pasien dengan penyakit selain LES, titer ANA umumnya lebih rendah dan pola imunofluoresensinya berbeda. ACR merekomendasikan uji ANA pada pasien yang mengalami dua atau lebih gejala dan tanda yang terdaftar pada tabel 1.13. Apabila titer ANA normal pada kasus keterlibatan sistem organ yang nyata dengan kecurigaan lupus eritematosus sistemik maka harus dilakukan penelusuran diagnosis alternative. Bila tidakditemukan sebab lain, dapat dipertimbangkan diagnosis LES ANA-negatif dan konsultasi ke ahli reumatologi. Bila pasien dengan titer ANA normal mengalami gejala klinis baru yang sesuai dengan LES maka ujui ANA harus diulangi (Level bukti C,
dilakukan penelusuran diagnosis konsensus/pendapat ahli].

Tabel 8. Gejala klinis lupus eritematosus sistemik menurut American College of Rheumatology10,11

Tabel 9. Kriteria klasifikasi American College of Rheumatology untuk lupus eritematosus sistemik.36
2.9 Silent Lupus Nephritis dan Biopsi Ginjal
Kecurigaan pada nefritis lupus biasanya muncul dari temuan klinis dan laboratorium yang mengindikasikan kemungkinan bentuk aktif proliferatif dari nefritis lupus. Sebagai contoh, pasien dengan gross hematuria atau mikroskopik umumnya dianggap nefritis lupus tipe yang lebih berat dan lebih cenderung dilakukan biopsi ginjal. Beberapa studi telah dilakukan atas dasar keraguan tentang kemampuan urinalisa untuk memprediksi patologi penyakit ginjal. Sebagai contoh, Eiser dkk melakukan biopsi renal pada 13 pasien dengan diagnosis klinis LES dan manifestasi nonrenal aktif, tetapi tanpa tanda gagal ginjal kronis atau urinalisa yang abnormal. Menariknya biopsi ginjal 7 dari 13 pasien menunjukkan nefritis lupus proliferatif difus atau fokal. Pengamatan ini mengangkat suatu kemungkinan bahwa nefritis lupus yang tersembunyi bisa terjadi tanpa temuan laboratorik penyakit ginjal. Kegagalan level kreatinin serum dan proteinuria dalam mendeteksi kelas nefritis lupus spesifik juga diamati oleh peneliti lain. Sebagai contoh, Jacobsen meneliti secara retrospektif biopsi dari 94 pasien dengan lupus aktif tetapi kreatinin serum normal. Walaupun fungsi ginjal tampak normal secara laboratorik saat biopsi, 55% pasien didapatkan memiliki nefritis lupus proliferatif difus kelas IV. Proteinuria berkisar mulai dari 31 gram/24 jam. Tidak ada korelasi antara derajat proteinuria dan histologi yang mendasarinya, kecuali pasien dengan penyakit membranosa kelas V yang cenderung memiliki level proteinuria lebih tinggi.
Observasi bahwa kreatinin serum, proteinuria dan sedimen urin merupakan prediktor yang buruk dari patologi renal mendorong Roberti dkk untuk melakukan studi buta ganda prospektif yang membandingkan temuan urinalisa dengan hasil biopsi renal pada 15 pasien dengan LES aktif. Dari 15 orang pasien, pada 6 orang (40%) tidak dijumpai tanda penyakit ginjal aktif, sementara 9 orang memiliki penyakit ginjal aktif. Tidak ada parameter urinalisis tunggal yang berkorelasi dengan kelas nefritis lupus yang mendasarinya atau pun mengidentifikasi pasien dengan penyakit ginjal progresif. Pengamatan ini menyimpulkan bahwa keputusan untuk melakukan biopsi ginjal sebaiknya dibuat dengan mengamati berbagai variabel yang mengindikasikan penyakit ginjal yang signifikan. Sebaliknya, tidak ada satu temuan laboratorium tunggal (mis. hematuria atau proteinuria) dapat menyingkirkan nefritis lupus. 23
2.10 PENATALAKSANAAN
Kebanyakan klinisi sepakat akan tujuan terapeutik seperti berikut untuk pasien yang baru terdiagnosis nefritis lupus : (1) untuk mencapai remisi renal segera, (2) untuk mencegah renal flare, (3) untuk menghindari gangguan ginjal kronik, (4) untuk mencapai tujuan-tujuan di atas dengan toksisitas minimal. Walaupun dalam dekade terakhir angka survival meningkat, harus ditekankan bahwa regimen imunosupresif hasilnya masih suboptimal. Pertama, angka remisi renal setelah terapi lini pertama paling baik hanya 81% dalam studi-studi prospektif terbaru. Kedua, relaps renal terjadi pada sepertiga dari pasien LN, kebanyakan saat pasien masih dalam kondisi imunosupresi. Ketiga, antara 10-20% pasien mengalami gagal ginjal terminal 5-10 tahun setelah onset penyakit, walaupun angka ini menurun pada studi-studi berikutnya (5-10%). Akhirnya, toksisitas terkait pengobatan masih merupakan kekuatiran utama, seperti efek samping metabolik dan tulang pada kortikosteroid dosis tinggi, infeksi tulang atau gagal ovarium prematur pada wanita yang menerima siklofosfamid dosis tinggi.23

Gambar 8. Skema Terapi Nefritis Lupus 37
Prinsip pengobatan nefritis lupus :
5. Terapi kortikosteroid harus diberikan bila pasian mengalami penyakit ginjal yang signifikan secara klinis. Gunakan agen imunosupresif terutama siklofosfamid, azathioprine, atau mycophenolate mofetil bila pasien mengalami lesi proliferatif agresif. Agen-agen ini juga bisa digunakan bila pasien tidak respon atau terlalu sensitif terhadap kortikosteroid.
6. Obati hipertensi secara agresif, pertimbangkan pemberian ACE inhibitor atau ARB bila pasien mengalami proteinuria signifikan tanpa insufisiensi renal signifikan.
7. Restriksi asupan lemak atau gunakan terapi lipid-lowering seperti statin untuk hiperlipidemia sekunder terhadap sindrom nefrotik. Restriksi asupan protein bila fungsi ginjal sangat terganggu. Berikan suplementasi kalsium untuk mencegah osteoporosis bila pasien dalam terapi steroid jangka panjang dan pertimbangkan penambahan bifosfonat.
8. Hindari obat-obatan yang mempengaruhi fungsi ginjal, termasuk OAINS terutama pada pasien dengan level kreatinin yang meningkat. Salisilat non asetilasi dapat digunakan untuk mengobati gejala inflamasi pada pasien dengan penyakit ginjal.
9. Pasien dengan nefritis lupus aktif harus menghindari kehamilan, karena dapat memperburuk penyakit ginjalnya.
10. Pasien dengan ESRD, sklerosis dan indeks kronisitas tinggi berdasarkan biopsi ginjal biasanya tidak berespon terhadap terapi agresif. Pada kasus-kasus ini fokuskan terapi pada manifestasi ekstrarenal dari LES dan kemungkinan transplantasi ginjal
Terapi untuk tipe spesifik nefritis lupus berdasarkan patologi renal :
11. Kelas I : Nefritis lupus minimal mesangial tidak memerlukan terapi spesifik
12. Kelas II : Nefritis lupus mesangial proliferatif mungkin memerlukan pengobatan bila proteinuria lebih dari 1000 mg/hari. Pertimbangkan prednison dosis rendah sampai moderat (mis. 20-40 mg/hari selama 1-3 bulan diikuti tapering.
13. Kelas III dan IV : Pasien dengan nefritis fokal atau difus berisiko tinggi menjadi ESRD dan memerlukan terapi agresif
14. Berikan prednison 1 mg/kg/hari selama paling sedikit 4 minggu tergantung respons klinis. Kemudian dilakukan tapering sampai dosis rumatan 5-10 mg/hari selama kurang lebih 2 tahun. Pada pasien sakit akut, metilprednisolon intravena dengan dosis hingga 1 gram/hari selama 3 hari dapat digunakan untuk inisiasi terapi kortikosteroid.
o Gunakan obat imunosupresif sebagai tambahan kortikosteroid pada pasien yang tidak berespon dengan kortikosteroid sendiri, yang mengalami toksisitas terhadap kortikosteroid, yang fungsi ginjalnya memburuk, yang mengalami lesi proliferatif berat atau terdapat bukti sklerosis pada spesimen biopsi ginjal. Baik siklofosfamid dan azathioprine efektif untuk nefritis lupus proliferatif walaupun siklofosfamid tampaknya lebih efektif dalam mencegah progresi ke ESRD. Mycophenolate mofetil telah ditunjukkan cukup efektif dalam mengobati pasien-pasien ini dan dapat digunakan sendiri atau setelah 6 bulan siklofosfamid intravena.
o Berikan siklofosfamid intravena secara bulanan selama 6 bulan dan setelahnya tiap 2-3 bulan tergantung respons klinis. Durasi terapi yang umum adalah 2-2,5 tahun. Turunkan dosis bila klirens kreatinin <30 mL/menit. Sesuaikan dosis tergantung respon hematologis. Leuprolide asetat, suatu analog gonadotropin-releasing hormone, dapat melindungi terhadap gagal ovarium.
o Azathioprine dapat juga digunakan sebagai agen lini kedua, dengan penyesuaian dosis tergantung respon hematologis.
o Mycophenolate mofetil berguna pada pasien dengan nefritis lupus fokal atau difus dan telah terbukti setidaknya sama efektif dengan siklofosfamid intravena dengan toksisitas lebih rendah pada pasien dengan fungsi ginjal yang stabil.
15. Kelas V : Pasien dengan nefritis lupus membranosa umumnya diterapi dengan prednison selama 1-3 bulan, diikuti tapering selama 1-2 tahun bila respon baik. Bila tidak ada respon, obat dihentikan. Agen imunosupresif umumnya tidak digunakan kecuali fungsi ginjal memburuk atau komponen proliferatif ditemukan pada sampel biopsi renal. Beberapa bukti klinis mengindikasikan bahwa azathioprine, siklofosfamid, siklosporin, dan klorambusil efektif dalam mengurangi proteinuria. Mycophenolate mofetil juga mungkin efektif.
Pasien dengan ESRD memerlukan dialisis dan merupakan kandidat yang baik untuk transplantasi ginjal. Pasien dengan ESRD sekunder terhadap LES mewakili 1,5% dari seluruh pasien dialisis di Amerika. Angka survival pasien dengan dialisis sebanding dengan pasien dialisis yang tidak punya LES (5 year survival rate 60-70%). Hemodialisis lebih disukai dibandingkan dialisis peritoneal; beberapa studi medokumentasikan level anti-dsDNA yang lebih tinggi, lebih banyak trombositopenia dan kebutuhan steroid yang lebih tinggi pada pasien ESRD akibat LES yang dilakukan dialisis peritoneal. Hemodialisis juga memiliki efek anti-inflamasi dengan penurunan level limfosit T-helper. Umumnya LES tenang pada pasien hemodialisis. Walaupun flare seperti rash, artritis,serositis, demam dan leukopenia dapat terjadi, dan memerlukan terapi spesifik.1,25
Perjalanan penyakit nefritis lupus bervariasi antar pasien LES, bahkan pada mereka yang memiliki tipe histologis yang sama. Agen imunosupresif dapat menginduksi remisi pada sebagian besar pasien dengan nefritis lupus proliferatif, tetapi sebagian proporsi dari mereka- berkisar antara 27-66% pada berbagai studi-akan mengalami flare. Flare merupakan masalah karena bahaya kerusakan kumulatif yang dapat menurunkan fungsi ginjal dan juga toksisitas akibat imunosupresi tambahan. Terapi rumatan dengan azathioprine, mycophenolate mofetil atau pulse siklofosfamid biasanya direkomendasikan. Flare renal dapat dikategorikan sebagai nefritik atau nefrotik dan bisa ringan atau berat. Mayoritas pasien yang mengalami flare dapat pulih fungsi ginjalnya, bila didiagnosis dan diobati segera.25
Mocca dkk mendefinisikan renal flare sebagai peningkatan 30% dari kreatinin serum atau peningkatan 2,0 gram/hari dari proteinuria setelah terapi induksi. Pasien dengan indeks aktivitas teinggi dan adanya karyorrhexis lebih sering mengalami rekurensi penyakit. Ioannidis dkk mendefinisikan penyakit rekuren sebagai sedimen urin aktif (8-10 RBC/lpb) atau lebih dari 500 mg proteinuria/24 jam.23

Gambar 9. Protokol test pada SLE.38

Tujuan pengobatan adalah memperbaiki fungsi ginjal. Medikamentosa berupa kortikosteroid dan agen imunosupresif . Dialisis dapat dilakukan untuk mengontrol gejala gagal ginjal. Transplantasi ginjal juga direkomendasikan (pasien dengan lupus yang aktif tidak boleh dilakukan transplantasi ginjal).55
Dosis kumulatif rata-rata dan dosis per sesi IV, dan masa paparan terhadap Siklofosfamid IV dan Metilprednisolon dalam pengobatan Nefritis Lupus dan Sindrom Nefrotik ternyata identik dalam penelitian observasional selama 7 tahun*. Status penyakit Nefritis Lupus Sindrom Nefrotik Nefritis Lupus Sindrom Nefrotik
Imunosupresan Siklofosfamid Siklofosfamid Metilprednisolon Metilprednisolon
Dosis kumulatif dalam mg 2025.9+925.8 2025.9+925.8 2025.9+925.8 2025.9+925.8
Per sesi IV dalam mg 83.9+15.9 83.9+15.9 83.9+15.9 83.9+15.9
Jumlah sesi IV 21.7+7.5 21.7+7.5 27.7+7.5 21.7+7.5
Masa terapi IV dalam minggu 41.3+9.6 41.3+9.6 41.3+9.6 41.3+9.6
Tabel 10. Dosis pengobatan Nefritis Lupus, Sindroma Nefrotik terhadap Siklofosfamid dan Metilprednisolon.39
2.11 Manifestasi neuropsikiatrik pada LES
Lupus eritematosus system ik neuropsikiatrik (NPSLE) adalah suatu penyakit heterogen dengan manifestasi beragam yang dapt terjadi pada 25-50% pasien dengan LES. Dari manifestasi neurologis yang sering dari LES, yang paling sering adalah ensefalopati organik (35-75% dari seri kasus) yang mencakup seluruh variasi potensial dari acute confusion syndrome, letargi atau koma, demensia kronis, depresi, mania atau gangguan afektif lainnya atau psikosis. Perubahan status mental akut atau subakut mungkin sekunder terhadap serebritis difus, tetapi harus dibendakan dengan disfungsi kortikal fokal akibat stroke tromboembolik atau perubahan difus akibat gangguan elektrolit/metabolik (yang biasanya diperberat oleh ganggual ginjal penyerta), efek medikasi seperti psikosis steroid (terutama pada dosis tinggi dan jangka lama), meningitis aseptik (terutama pada NSAID) atau infeksi oportunistik.40
Hingga saat ini belum ada definisi kriteria untuk diagnosis NPSLE. Berbagai studi melaporkan 12-52% prevalensi psikosis, yang juga mencakup gangguan waham dan gangguan afektif berat. Suatu kasus psikosis lupus dapat berupa paranoia dan halusinasi auditorik maupun visual. Biasanya remisi total dapat terjadi, tetapi relaps juga cukup sering dijumpai. Insidensi sebenarnya dari psikosis sulit dipastikan karena seringkali mirip dengan gejala delirium ataupun psikosis akibat kortikosteroid. Manifestasi psikiatrik dari LES dilaporkan sering berespon terhadap terapi steroid, sementara bentuk psikosis sekunder akibat terapi steroid akan memburuk dengan peningkatan dosis.

Gambar 10. Mekanisme keterlibatan CNS pada LES.41
Pada nefritis lupus,suatu subset antibodi berikatan dengan kromatin DNA pada glomeruli yang membentuk kompleks imun dan menyebabkan aktivasi komplemen dan glomerulonefritis. Antibodi anti-dsDNA juga dapat bereaksi silang dengan substrat non asam nukleat. Suatu subset dari antibodi ini bereaksi silang dengan reseptor NMDA dan mungkin terlibat pada lupus CNS.
Yang cukup menarik adalah bahwa antibodi antiribosomal P yang merupakan keluarga antibodi antifosfolipid biasanya positif pada 60% kasus psikosis lupus.
Joseph et al (2007) dalam studinya melaporkan bahwa 35% dari CT scan otak dan 65% dari MR scan adalah abnormal, tetapi CT tetap bernilai dalam mengidentifikasi perdarahan dan infark yang lebih besar. Evaluasi neuroradiologis lebih menyukai MRI dibandingkan CT scan karena iskemia ringan atau serebritis dapat terlihat dengan sensitivitas lebih tinggi. 42
2.12 PROGNOSIS
Pada nefritis lupus kelas I dan II hampir tidak terjadi penurunan fungsi ginjal yang bermakna sehingga secara nefrologis kelompok ini memiliki prognosis yang baik. Nefritis lupus kelas III dan IV hampir seluruhnya akan menimbulkan penurunan fungsi ginjal. Pada nefritis lupus kelas III yang keterlibatan glomerolus 50%, dimana prognosis kelompok ini menyerupai prognosis nefritis lupus kelas IV yaitu buruk. Nefritis lupus kelas V memiliki prognosis yang cukup aik sama dengan nefropati membranosa primer, sebagian kecil akan menimbulkan sindrom nefrotik yang berat.43
Prognosis bergantung kepada bentuk dari nefritis lupus. Pasien dapat sembuh sementara dan kemudian timbul kembali gejala akut dari lupus. Beberapa kasus berkembang menjadi gagal ginjal kronik.44

BAB III
KESIMPULAN

1. Nefritis lupus merupakan salah satu komplikasi yang cukup sering dijumpai pada LES.45
2. Kelainan histopatologis yang didapatkan pada biopsy ginjal menentukan pilihan pengobatan
3. Dalam pengobatan Nefritis Lupus perlu dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratories secara berkala untuk melihat keberhasilan pengobatan.46
4. Perlu pemantauan efek samping obat-obatan yang dipakai dalam pengobatan nefritis lupus karena jangka waktu pengobatan relative lama.47

DAFTAR PUSTAKA

1. Brent LH, Hamed FA. Lupus Nephritis. In: James K, Blom, eds. Lupus
Erythematosus. 12th ed. Washington, PA: Lippincott Williams and Wilkins; 2008: 849-67.
2. Belmont MH. Lupus Clinical Overview. In: James K, Blaire M, eds. Nephritis Lupus. 5th ed. New York, PA: McShane; 2006: 123-58.
3. Rus V, Maury EE, Hochberg MC. Epidemiology of Systemic Lupus Erythematosus. In: Wallace DJ, Hahn BH, eds. Dubois’ Lupus Erythematosus. 7th ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2007:34-44.
4. Dooley MA. Clinical and laboratory features of lupus nephritis. In: Wallace DJ, Hahn BH, eds. Dubois’ Lupus Erythematosus. 7th ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2007:1112-30.
5. Gloor JM. Lupus nephritis in children. Lupus. 1998;7(9):639-43.
6. Brunner HI, Gladman DD, Ibañez D, Urowitz MD, Silverman ED. Difference in disease features between childhood-onset and adult-onset systemic lupus erythematosus. Arthritis Rheum. Feb 2008;58(2):556-62.
7. Bartels CM, Muller D. The Systemic Lupus Erythematosus (Rheumatology). Arthritits Rheum 1998; 239: 1856-9
8. Tan EM, Cohen AS, Fries JF, Masi AT, McShane DJ, Rothfield NF, et al. The 1982 revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus. Arthritis Rheum 1982;25:1271-7.
9. Hochberg MC. Updating the American College of Rheumatology revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus [Letter]. Arthritis Rheum 1997;40:1725.
10. Gilboe IM, Husby G. Application of the 1982 revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus on a cohort of 346 Norwegian patients with connective tissue disease. Scand J Rheumatol 1999;28:81-7.
11. Schur PH. General symptomatology and diagnosis of systemic lupus erythematosus in adults. (Letter). 2005:60: 125
12. Gill JM et al. Diagnosis of systemic lupus erythematosus. Am Fam Physician. (Journal).2003;68:2179-86.
13. Sudoyo AW et al. Nefritis lupus. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam UI, 2007 :
14. Yung S, Chan TM. Anti-DNA antibodies in the pathogenesis of lupus nephritis–the emerging mechanisms. Autoimmun Rev. Feb 2008;7(4):317-21.
15. Ardoin SP, Pisetsky DS. Development in the scientific understanding of lupus.Arthritis Research & Therapy 2008, 10:218
16. Rahman A, Isenberg DA. Systemic lupus erythematosus. N Engl J Med. 2008;358(9):929-39
17. Simón JA, Cabiedes J, Ortiz E, Alcocer-Varela J, Sánchez-Guerrero J. Anti-nucleosome antibodies in patients with systemic lupus erythematosus of recent onset. Potential utility as a diagnostic tool and disease activity marker. Rheumatology (Oxford). 2004;43(2):220-4
18. Adis International Limited. Treat lupus according to disease presentation. Drug Ther Perspect 14(8):6-9, 1999
19. Weening JJ, D’Agati VD, Schwartz MM, Seshan SV, Alpers CE, Appel GB. The classification of glomerulonephritis in systemic lupus erythematosus revisited. J Am Soc Nephrol. 2004;15(2):241-50
20. Austin HA III, Muenz LR, Joyce KM, et al. Diffuse proliferative lupus nephritis: identification of specific pathologic features affecting renal outcome. Kidney Int 1984; 25: 689-95
21. Tumlin JA. Lupus Nephritis : Histology,diagnosis and treatment. Bulletin of the NYU Hospital for Joint Diseases 2008;66(3):188-94
22. Waldman M, Appel GB. Update on the treatment of lupus nephritis.Kidney Int 2006; 70 : 1403-12
23. PI Sidiropoulos et al. Lupus nephritis flares. Lupus 2005;14: 49-52
24. Ramachandran TS, Grisolia JS. Systemic Lupus Erythematosus (Neurology). Kidney Int 2006; 70 : 1232-48
25. Brent LH, Hamed FA. Lupus Nephritis. Bulletin of the NYU Hospital for Joint Diseases 2008;62(5):123-45
26. The 8th International Congress on SLE; May 23-27, 2007; Shanghai, China. Updating the American College of Rheumatology revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus [Letter]. Arthritis Rheum 1997;40:1725.
27. Rus V, Maury EE, Hochberg MC. Epidemiology of Systemic Lupus Erythematosus. In: Wallace DJ, Hahn BH, eds. Dubois’ Lupus Erythematosus. 7th ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2007:34-44.
28. Dooley MA. Clinical and laboratory features of lupus nephritis. In: Wallace DJ, Hahn BH, eds. Dubois’ Lupus Erythematosus. 7th ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2007:1112-30.
29. Gloor JM. Lupus nephritis in children. Lupus. 1998;7(9):639-43.
30. Brunner HI, Gladman DD, Ibañez D, Urowitz MD, Silverman ED. Difference in disease features between childhood-onset and adult-onset systemic lupus erythematosus. Arthritis Rheum. Feb 2008;58(2):540-42
31. Bartels CM, Muller D. Systemic Lupus Erythematosus (Rheumatology). criteria for the classification of systemic lupus erythematosus [Letter]. Arthritis Rheum 1997;40:1725.
32. Tan EM, Cohen AS, Fries JF, Masi AT, McShane DJ, Rothfield NF, et al. The 1982 revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus. Arthritis Rheum 1982;25:1271-7.
33. Hochberg MC. Updating the American College of Rheumatology revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus [Letter]. Arthritis Rheum 1997;40:1725.
34. Gilboe IM, Husby G. Application of the 1982 revised criteria for the classification of systemic lupus erythematosus on a cohort of 346 Norwegian patients with connective tissue disease. Scand J Rheumatol 1999;28:81-7.
35. Schur PH. General symptomatology and diagnosis of systemic lupus erythematosus in adults.[Letter]. Arthritis Rheum 1997;40:1722.
36. Gill JM et al. Diagnosis of systemic lupus erythematosus. Am Fam Physician. 2003;68:2179-86.
37. Sudoyo AW et al. Nefritis lupus. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam UI, 2007 :
38. Yung S, Chan TM. Anti-DNA antibodies in the pathogenesis of lupus nephritis–the emerging mechanisms. Autoimmun Rev. Feb 2008;7(4):317-21.
39. Ardoin SP, Pisetsky DS. Development in the scientific understanding of lupus.Arthritis Research & Therapy 2008, 10:218
40. Rahman A, Isenberg DA. Systemic lupus erythematosus. N Engl J Med. 2008;358(9):929-39
41. Simón JA, Cabiedes J, Ortiz E, Alcocer-Varela J, Sánchez-Guerrero vc J. Anti-nucleosome antibodies in patients with systemic lupus erythematosus of recent onset. Potential utility as a diagnostic tool and disease activity marker. Rheumatology (Oxford). 2004;43(2):220-4.
42. Weening JJ, D’Agati VD, Schwartz MM, Seshan SV, Alpers CE, Appel GB. The classification of glomerulonephritis in systemic lupus erythematosus revisited. J Am Soc Nephrol. 2004;15(2):241-50
43. Austin HA III, Muenz LR, Joyce KM, et al. Diffuse proliferative lupus nephritis: identification of specific pathologic features affecting renal outcome. Kidney Int 1984; 25: 689-95
44. Tumlin JA. Lupus Nephritis : Histology,diagnosis and treatment. Bulletin of the NYU Hospital for Joint Diseases 2008;66(3):188-94
45. Waldman M, Appel GB. Update on the treatment of lupus nephritis.Kidney Int 2006; 70 : 1403-12
46. Siti Setiati et al. Nefritis lupus. In: Naskah Lengkap Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam UI, 2002; 167-170.
47. Schur PH. General symptomatology and diagnosis of systemic lupus erythematosus in adults. Criteria for the classification of systemic lupus erythematosus [Letter]. Arthritis Rheum 1997;40:1780


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: